Sabtu, 05 Januari 2013

Chapter I


Harapan Bidadari Kecil
Chapter I

“ Maaf  ya bang keliatannya hubungan kita ngak bisa dilanjutin lagi, aku disuruh oom fokus untuk kuliah dulu lagian dalam Islam ngak ada pacaran. “
Membaca SMS tersebut membuat hari ku kacau balau, planning kerjaan yang telah aku siapkan tadi malam jadi berantakan. Maklum aku telah membuat mimpi yang indah untuk hubungan ku dengannya tapi keliatannya aku harus belajar kembali rasa Ikhlas dan Sabar. Allah cemburu melihat ku lebih cinta mahluk dari pada-NYA. Akhirnya kembali lagi kepada petuah bijak
“ kita hanya bisa berencana dan berusaha tapi keputusan ada ditangan-NYA “

Kejadian tiga hari lalu itu masih saja melintas dikepala ku, aku pun mencari-cari semua jawaban dari pertanyaan ku yang ada didalam hati. Hingga akhirnya aku tersadarkan oleh penjelasan seorang teman yang menjaga kantin sekolah, jawaban dari semua pertanyaan hati ku terjawab dengan tegas sesuai dengan Hukum Islam. Maklum teman ku yang satu ini ilmu agamanya cukup dalam berbeda dengan ku sebagai orang jalanan.
Perlahan-lahan aku coba menerima semua dengan Ikhlas dan Sabar. Hubungan ku dengan pacar ku pun berakhir tapi Silahtuhrohim kami tetap berjalan walau hanya lewat SMS atau telfon, walaupun terkadang didalam hati ini ingin sekali ngobrol dengannya. Tapi sekarang aku fokus dengan kerjaan ku dan dia fokus dengan kuliahnya. Sesekali aku berkunjung kepanti asuhan tempat kami yang sering dulu datangi hanya ingin mengenang masa lalu. Sudah hampir 3 bulan aku tidak berkunjung kesini semenjak aku putus dengan Sifa, dipanti asuhan ini kami ketawa dan bercandaan bareng dengan anak panti karena seringnya kami berkunjung anak-anak panti hapal jadwal coklat batangan yang kami bawa. Dan seperti biasanya aku datang kepanti membawa coklat tetapi dengan seorang diri…
“ kakak ko’ datang sendiri, embak Sifanya mana? “ Tanya Dita salah satu penghuni panti
“ ooo…Embak Sifanya lagi kuliah makanya kakak karang datang sendirian ” sambut Dita dengan lari kecilnya yang sudah hafal sekali dengan suara motor ku
“ tapi ka’ karang dan Embak Sifa baik-baik aja kan? Ngak lagi marahankan? “ celetuk Dita
“……”
Mendengar celetukan Dita membuat sebuah lubang dijantung ku yang mulai rapat karena luka hubungan ini terkuak kembali.
“ Alhamdulillah kakak Karang dan Embak Dita sudah putus…sekarang kakak Karang dan Embak Dita jalan sendiri-sendiri tapi kalo Silahturohim tetap berjalan “
“ ah rumit…Dita ngak ngerti “
“ Dita temen-temen yang lainnya pada kemana nie? Ko’ cuman ada Dita aja “
“ yang lain pada jalan-jalan kepantai sama Ibu Desi ma Pak Budi…Dita ngak ikut soalnya lagi  sakit panas ka’, kata temen-temen yang lain kalo Dita ikut entar malah bikin repot disana “
“ terus dipanti Dita sama sapa? “
“ tuh dikantor ada Bu’ Meri aja “
“ ya udah sekarang Dita masuk kamar lagi aja, kakak mau ketemu dulu dengan Bu’ Meri “
“ tapi Dita digendong dibelakang yaaaa “
“ ok bos “ coklat batangan pun akhirnya aku masukan kedalam tas yang sudah aku pindahkan kedada ku, sementar Dita ada dipunggung belakang ku
“ Assalamualaikum “
“ Waalaikumsalam ”
“ ooo Mas Karang, Embak Sifanya mana mas? Ko’ dateng sendirian biasanya berdua “
“ ka’ Karang , Dita masuk kamar dulu yaaa “
“ ok bos “
“ ok bos melulu sie? ” dengan wajah cemberut
“ terus kakak disuruh jawab apaan dong? ”
“ ya apa gitu…apa siap tuan putri…apa iya cantik…huuh payah “
“ iya deh kalo gitu…iya cantik  entar kalo kakak sudah ngobrol dengan Bu’ Meri, Dita kakak ajak jalan-jalan deh “
“ beneran nie ka’ ? “
“ beneran cantik ”
“ asyik…iya deh kalo gitu Dita mau siap-siap ganti baju dulu “ akhirnya Dita pun pergi dan aku melanjutkan obrolan ku kembali dengan Bu’ Meri, dari obrolan ku dengan Bu’ Meri ku dapat informasi kalo Dita mengalami penyakit kebocoran jantung. Dan dari situ pula aku berjanji akan membuat Dita tetap tersenyum dan bahagia. *Ya Rabb kenapa Dita yang masih putih ingin Engkau panggil untuk menghadap-Mu, kenapa Engkau tidak berikan sakit itu kepada ku saja agar hati ini tidak menghitam karena dendam. Ya Rabb Engkau tahu apa yang terbaik bagi hamba-Mu.
Sesuai waktu yang ku janjikan kepada Dita, aku menunggunya dihalaman parkir. Dita tampak anggun mengenakan busana muslim plus jilbab putih. Terlihat cerah sekali wajahnya,  tetapi kenapa hati ku sedih seakan merasa kehilangan. *pertanda apa ini Ya Rabb, ku memohon kepada-MU dengan segala kerendahan diri untuk Engkau tenangkan hati ku…Amien Ya Robbal Alamin.
Ku pacu sepedah motor ketaman kota biasa tempat aku, Sifa dan Dita menghabiskan waktu sore kami bertiga. Jujur aja Dita sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri. Entah kenapa hari ini aku ingin sekali membuat senang Dita
“ ka’ Karang beliin Dita jagung bakar sie? “
“ ok bos permintaan segera dilaksanakan “
“ tuh kan ok bos lagi “
“ iya iya ka’ Karang lupa “
“ terus? “
“ terus apa cantik? “
“ nah gitu dong “
“ ya udah cantik tunggu disini aja dulu, kakak beli jagung bakar dulu yaaa “
Seperti biasanya kalau aku beli jagung bakar Dita bermain mainan yang ada ditaman kota, entah lari-lari, entah memanjat tiang pipa yang melengkung atau bermain ayunan. Dari kejauhan aku hanya memperhatikan setiap gerakannya sembari menunggu jagung bakar matang. Dita melambaikan tangannya untuk mengajak ku menemani ia bermain. Ternyata penafsiran ku salah tentang lambai tangan itu, Dita pun terjatuh ketanah setelah melambaikan tangannya spontan aku berlari menuju kearahnya
“ kakak…dada kiri Dita sakit banget…Dita ngak kuat ka’ “ mendengar perkataanya itu aku pun langsung membopongnya dan membawanya kerumah sakit. Panik dan takut sekali aku melihat keadaan Dita dengan muka pucat pasi dan nafas yang tersengal-sengal. Aku langsung menelfon Bu’ Meri untuk memberitahukan keadaan Dita yang ada dirumah sakit, setelah itu aku coba untuk menelfon Sifa tapi ternyata handphonenya tidak aktif. Terus ku coba berkali-kali untuk menghubungi Sifa tapi tetap saja hasilnya nihil. Ku lihat kecemasan yang teramat sangat diwajah Bu’ Meri, semakin takut aku membayangkan keadaan Dita yang sekarang terbaring diruang ICU.
Tak lama kemudian dokter yang menangani keadaan Dita keluar
“ gimana dokter keadaan Dita? “
“ ibu yang sabar ya, kami pihak dokter dan perawat rumah sakit telah berusaha dengan sekuat tenaga tetapi Tuhan berkehendak lain “
“ jadi sekarang Dita sudah meninggal Dokter? “
Dokter pun menganggukan kepala pertanda Dita telah meninggal, sementara aku hanya terdiam membisu melihat percakapan itu. * Ya Robbi kenapa gadis kecil itu Engkau panggil untuk menghadap-MU, bukankah perjalanan hidupnya masih teramat panjang. Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Mu dan apalah daya kami untuk melawan semua takdir yang telah Engkau tuliskan dilangit-MU.
Setiap hari selama seminggu aku selalu menyempatkan diri untuk mampir sepulang dari kantor untuk berkunjung kepanti asuhan itu hanya untuk mengenang masa indah bersama bidadari kecil yang selalu Ikhlas dalam tersenyum dan bersabar dalam menjalani hari-harinya. Sementara Sifa tak ada kabarnya semenjak meninggalnya Dita, semoga Sifa mengetahui kabar berita ini. Ketika terjaga dari lamunan ku mengenang Dita, tiba-tiba datang Ayu teman sekamar Dita yang usianya 3 tahun lebih tua untuk menyerahkan sebuah surat dan kata Ayu dalam semua tulisan yang ada didalam surat ini Dita yang menulisnya sendiri. Setelah menyerahkan surat itu Ayu pun pergi meninggalkan ku dan aku pun bergegas menuju pulang kerumah.
Malam harinya setelah sholat isya’ ku baca surat Dita yang sore tadi diserahkan Ayu

Untuk kakak Karang sama Embak Sifa
Dita mau cerita ni sama kakak Karang atau sama Embak Sifa. Tadi disekolah Dita disuruh sama Bu’ guru untuk menulis cerita pendek tentang orang-orang yang Dita sayangin, terus Dita tulis aja kalo Dita seneng banget diajak jalan-jalan sore setiap hari minggu  sama kakak Karang dan embak Sifa. Ngak tau yang Dita inget  cuman itu pas disuruh Bu’ guru nulis cerita. Dita seneng banget nulis cerita itu soalnya Dita selalu inget dibeliin jagung bakar, es krim, terus jalan-jalan deh keliling kota bareng kakak Karang ma embak Sifa. Terus Dita pejemin mata Dita bis nulis cerita itu sebelum dikumpul sama Bu’ guru. Kakak Karang tau ngak kenapa Dita mejemin mata? Dita minta sama Allah embak Sifa sama kakak Karang bisa nikah terus entar Dita kan punya adek. Ka’ Karang udahan dulunya Dita mau maen petak umpet sama temen-temen yang lain. Dita sayang Kakak Karang, Dita juga sayang sama Embak Sifa.
Setelah membaca surat yang ditulis oleh Dita hati ku terasa sakit sekali seakan-akan luka itu terbuka kembali. Luka yang selama ini aku coba obati agar hati ini tidak menjadi hitam karena dendam. Ya tapi inilah hidup…pahit, manis, asam, asin semuanya harus ku nikmati dan menyikapi semuanya itu dengan bijak berharap bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari-NYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar